Minggu, 27 April 2014

[Re-Post] [Fanfic] Forgotten Things

Title: Forgotten Things
Author: Ai
Fandom: the GazettE, include OFC
Genre: Friendship
Rating: G
Disclaimer: They're belong to themself.
A/N: Fic ini dibuat untuk ultah Kai dan diikutsertakan dalam lomba, namun kalah. (^^;;) 



***


‘kriing.. kriiing.. kriiing’


Alarm berbunyi memecah kesunyian pagi. Kai segera mencari sumber bunyi yang mengganggu mimpi indahnya. Matanya menyipit melihat angka di  jam beker kesayangannya. Pukul tujuh tepat. Dimatikannya alarm yang masih berbunyi, kemudian kembali tidur.

‘Masih satu jam lagi…’ pikirnya sebelum kembali memasuki alam mimpi.

Tidak berapa lama kemudian, Kai terlonjak dari tempat tidurnya. Dia baru menyadari satu hal.

“Hari ini kan jadwal pengambilan gambar!!!” Kai berseru pada dirinya dan beranjak ke kamar mandi.

***

‘Sial, sial, sial!!! Kenapa aku bisa lupa jadwal pengambilan gambar sepenting ini sih??? Tempatnya kan jauh…’ gerutu Kai dalam hati sementara mulutnya sibuk mengunyah sandwich sarapannya.Dia pun segera memacu kendaraannya menuju lokasi yang cukup jauh dari apartemen.


‘Hampir sampai…’ gumam Kai sambil menyetir dengan kecepatan penuh dan kemudian…

“Ah! Aku lupa mengunci pintu apartemen!!!”

***

“Terlambat lagi, Kai-san?” Tanya sutradara Miura kepada Kai. Sepertinya dia tidak bosan menanyakan hal itu. Bahkan dia sudah lupa berapa kali mengajukan pertanyaan yang sama kepada si pemilik lesung pipi yang saat ini hanya bisa meringis dan mengatur nafas.

“Anoo.. hh.. Gomennasai. Hontou ni gomennasai..” jawab Kai sambil membungkuk di hadapan sutradara. Sang sutradara hanya menatapnya sambil berkacak pinggang.

“Baiklah, baiklah.. Ya sudah, sana bergabung dengan yang lain. Dan cepat bersiap-siap!” perintah sutradara Miura yang segera dijawab dengan anggukan dan senyum lebar khas sang drummer the GazettE itu.

“Cepat!!!”

“Ba.. baik!”

Kai segera menuju ke ruang make-up dan bergabung dengan anggota the GazettE lainnya. Sementara anggota lainnya tertawa terbahak-bahak melihat leader mereka dimarahi sutradara.

“Terlambat lagi, Kai-san?” ucap Reita meniru perkataan sutradara. Yang bersangkutan hanya tersenyum kecut yang membuat Reita semakin ingin mengerjainya.

“Kau jahat sekali padaku, Rei-chan…” balas Kai dengan wajah cemberut.

“Oy, oy! Jangan memanggilku seperti itu. Menjijikkan!”

Kai yang mendengarnya tertawa melihat reaksi pria ber-noseband itu. Sementara Reita bersungut-sungut, Ruki, Aoi, dan Uruha tertawa melihat tingkah mereka berdua.

“Bagaimana kau bisa terlambat, Leader-sama?” Tanya Ruki di sela tawanya.

“Aku berani bertaruh kalau dia lupa jadwal dan bangun kesiangan” Aoi ikut menimpali.

“Aku hanya lupa jadwal, kok…” sahut Kai yang mulai bersiap-siap untuk pengambilan gambar.

“Eh? Lalu bagaimana kau bisa setelat ini???” sambung Uruha.

“Anoo.. Jarak dari apartemenku kesini kan lumayan jauh, karena baru ingat hal itu, aku jadi panik dan terburu-buru. Sampai lupa mengunci pintu apartemen..” jawab Kai di sela-sela persiapannya.

“Dan kau kembali lagi ke apartemenmu untuk mengunci pintunya?” Tanya mereka bersamaan sementara yang ditanya hanya tersenyum lebar mendengarnya.

“Ya begitulah. Dan aku baru menyadari hal itu saat hampir sampai kemari.” Ujar Kai sambil beranjak ke tempat sutradara Miura yang sudah memanggilnya.

“Bakayarou!!!”

***

“Sepertinya memang ada masalah dengan kepalanya,” ucap Reita kepada anggota yang lain dan dijawab dengan anggukan saat Kai tengah melakukan pengambilan gambar.

“Biar begitu dia leader kita, loh..” tukas Ruki.

“Berat mengakuinya, tapi dia benar-benar seorang leader yang dapat diandalkan. Walau aku masih heran dengan sifat pelupanya itu. Semakin parah rupanya,” sambung Aoi yang disambut dengan tawa Ruki dan Reita.

“Tapi berkat itu, sepertinya hari ini rencana kita akan berhasil,” sahut Uruha yang baru saja menyelesaikan pengambilan gambarnya. Mendengar hal itu, mereka tersenyum penuh arti sambil memandang sang leader yang dimarahi sutradara.

***

“Terima kasih banyak atas kerja kerasnya,” ucap Kai kepada semua staff. Para staff juga ikut mengucapkan hal yang sama. Walaupun dimarahi berkali-kali oleh sutradara Miura, Kai tersenyum puas dengan hasil yang dicapainya.Tapi ada sesuatu yang mengganjal dan membuatnya penasaran.

‘Sepertinya ada sesuatu yang aneh… Kenapa mereka menatapku dengan tatapan orang-ini-melupakan-sesuatu begitu? Jangan-jangan memang ada hal penting lain yang aku lupa? Tapi apa? Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya!’ gerutu Kai dalam hati.

Bunyi e-mail masuk membuyarkan pikirannya. Dibukanya e-mail yang ternyata dari Ruki.

Kai-kun, kau dimana? Kami sudah selesai dari tadi. Sekarang kami ada di lantai bawah. Segera kemari.

Kai segera membalasnya dan bergegas menuju lantai bawah, karena ruangan itu juga ternyata sudah sepi. Tak lupa dia merapikan dan membawa barang-barangnya. Namun sebelum dia keluar dari ruangan, listrik padam. Kai terkejut dan mulai panik.
            
‘Apa-apaan ini? Kenapa listrik padam disaat seperti ini?’ batin Kai. Dia mulai meraba dinding mencari pintu keluar dan mencoba membiasakan diri dalam kegelapan. Matanya menyipit saat melihat seberkas cahaya dari sisi lain ruangan dan terbelalak saat mengetahui bahwa cahaya itu berasal dari lilin-lilin diatas kue ulang tahun yang dibawa oleh teman-temannya. Senyum tersungging di bibirnya.

‘Ternyata ini yang aku lupakan,’ ucapnya dalam hati ketika dia baru menyadari tanggal hari ini. Tak lama kemudian listrik kembali menyala dan dilihatnya anggota the GazettE sudah berkumpul dihadapannya.
           
“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, dear Kai, happy birthday to you~” semua anggota the GazettE menyanyikan lagu dengan karakter vokal masing-masing sehingga terdengar seperti koor yang aneh namun sukses membuat Kai tertawa mendengarnya.
            
“Otanjoubi omedetou, leader-sama!” ucap Ruki kepada Kai sambil membawa kue ulang tahunnya.
            
“Otanjoubi omedetou, Kai-kun…” sahut Reita, Uruha dan Aoi bersamaan.
            
“Semoga kau menjadi lebih dewasa, berhasil meraih apa yang kau cita-citakan, dan tetaplah menjadi yang terbaik bagi the GazettE,” doa pertama diucapkan Ruki untuk Kai.
            
“Semoga kau mendapatkan yang terbaik untuk apapun yang kau inginkan. Jangan bosan jadi leader kami..” ucap Aoi tulus.
            
“Semoga kau diberi kesehatan dan kebahagiaan, Kai-kun…” sambung Uruha.
            
“Semoga kau panjang umur, semakin pandai memasak dan main drum, serta tidak pelupa lagi,” sahut reita yang diamini anggota lain.
            
“Terima kasih banyak. Kalian benar-benar…” Kai menghentikan kata-katanya karena tak mampu menahan rasa harunya.
            
“Aku bahkan lupa kalau ini hari ulang tahunku,” ucar Kai sambil tertawa.
            
“Kami sudah tahu akan hal itu,” sahut Reita. Mereka hanya tertawa mendengarnya.
            
“Nah, sekarang ucapkan permohonan dan tiup lilinnya,” seru Aoi yang kemudian memegangi kue ulang tahun dan menyodorkannya kepada Kai.
            
‘Kali ini aku harus membalasnya,’ gumam Aoi sambil tersenyum licik pada Kai.
            
“Baiklah,” ucap Kai sambil memejamkan mata dan tersenyum lebar.
            
‘Kabulkanlah doa mereka, semoga the GazettE selalu sukses dan aku bisa tetap bersama-sama dengan mereka,’ doa Kai dalam hati kemudian dia membuka mata.
            
“Ayo tiup lilinnya! 3, 2, 1…”  sebelum Aoi sempat balas dendam dengan meniup lilin ulang tahun Kai, Kai sudah lebih dulu meniupnya.
            
“Maaf ya, tapi aku selalu mendapatkan lilin ulang tahunku,” ucapnya pada Aoi yang terlihat kesal karena tak berhasil balas dendam. Kai yang melihatnya tertawa dan makin keras tawanya saat Aoi memukul kepalanya. Ruki, Reita, dan Uruha ikut tertawa melihat hal itu.
            
“Ah, maaf hanya ini yang bisa kami berikan. Oya, hadiah dariku menyusul saja ya!” ucap Reita sambil menyalami Kai.
            
“Aku sih sudah ada, hanya saja tidak kubawa karena khawatir ada yang iri dan ingin juga,” sahut Uruha dan langsung melirik Reita. Reita tersenyum kecut sementara yang lain tertawa melihatnya.
            
“Tidak apa-apa. Aku sudah sangat senang kalian masih ingat hari ulang tahunku. Kejutan ini benar-benar yang terbaik! Terima kasih banyak,” Kai membungkuk kepada semua teman-temannya. Dia benar-benar merasa bahagia bisa mempunyai teman seperti mereka.
            
“Tapi masih ada kejutan yang ingin kami berikan untukmu…” ucap Ruki Kai mengangkat alisnya, penasaran dengan kejutan apalagi yang mereka siapkan. Ruki tersenyum lebar.
            
“Rupanya kau tidak berubah, Yukkun…” terdengar suara seorang wanita dari belakang Kai. Kai segera berbalik mencari tahu si pemilik suara yang sangat dikenalnya itu. Betapa terkejutnya Kai melihat wanita yang sangat dicintainya mendekati dan tersenyum manis kepadanya.
            
“Selamat ulang tahun~!” ucapnya sambil tersenyum geli melihat keterkejutan Kai.
            
“Ibu?”

-終-

Note: 
This my first fanfic that I wrote. It's been a while since last time I read it. And I could admit that my writing skill is suck. (笑)

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, fic ini dibuat untuk ultah Kai, drummer the GazettE. Awalnya di-post di multiply, tapi berhubung multiply udah ga ada, saya alihkan kesini. 

FYI, Kai itu memang pelupa. Dia sering banget kelupaan barang-barangnya.Dia sendiri yang bilang loh, ya.. Check this video out.


Terus dendam yang dimaksud Aoi diatas itu, idenya dari video ini.. 


LOL

Ah~ Leader yang satu ini memang cho-kawaii deh. ❤ฺ(◡ฺ ω◡ฺ〃人)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar